Perbedaan teknik single pitching dan double pitching pada praktikum bedah kodok sederhana

 

Gambar Kodok yang sedang dibius menggunakan kapas basah dengan cairan alkohol 96%

Pada praktikum bedah katak ataupun kodok untuk mengetahui bagian anatominya. Kita perlu membius spesimen tersebut terlebih dahulu sebelum masuk pada pembedahan. Pembiusan bisa dengan metode kimiawi dengan menggunakan zat kimia tertentu untuk melumpuhkan syaraf spesimen bedah, sehingga tidak memberontak saat proses pembedahan.

Selain menggunakan prosedur pembiusan kimiawi, terdapat metode pembiusan dengan metode fisik. Pembiusan dengan metode fisik ini dilakukan dengan menusukkan instrumen bedah berupa alat tusuk panjang mirip jarum yang diarahkan ke anatom tertentu(pada kodok/katak yaitu foramen occipitale) yang mengakibatkan dua kemungkinan akibat peristiwa tersebut. Kemungkinan yang pertama, spesimen akan terbius karena tusukan mengenai bagian saraf atau kemungkinan lainnya spesimen akan mati karena yang tertusuk adalah bagian otak utama.

Metode pembiusan tersebut dikenal dengan metode single pitching dan double pitching. Berikut ini perbedaan antara kedua metode tersebut:
1.Secara keefektifan
Metode single pitching lebih disarankan untuk spesimen yang berukuran kecil dengan harapan masih bisa mendapatkan spesimen yang terbius, namun bagian anatomi yang akan diamati tetap dalam kondisi prima. Berbeda kasus jika spesimen yang diamati dalam ukuran yang besar. Metode Double pitching lebih cocok untuk digunakan karena efeknya yang menembus otak spesimen sehingga spesimen dapat dipastikan sudah siap dan tidak berontak saat akan dibedah dengan instrumen bedah.

2.Bagian yang terkena
Metode single pitching setelah tertusuk maka yang terkena adalah bagian sistem saraf tulang belakang kodok, sedangkan double pitching yang terkena adalah bagian otak dari kodok. Sehingga kodok dari pembiusan double pitching lebih anteng dariupada single pitching.

3.Efek dari tindakan
Kodok dari single pitching lebih berpotensi untuk berontak dan terbangun dari efek pembiusan daripada double pitching. Karena yang terkena single pitching itu hanya bagian saraf tulang belakangnya saja. Sehingga efek anestesinya kurang mendalam dan hanya bersifat lokal saja.

4.Indikator keberhasilan
Single pitching dapat dikatakan berhasil bila mata kodok tertutup dan badan kodok terjadi kejang sesaat disusul dengan lemas dan tanpa mengeluarkan darah berlebihan di area tusukan. Sedagkan double pitching ditandai dengan keluarnya darah secara intensif dari tempat penusukan.

Sekian artikel tentang perbedaan antara teknik single pitching dan double pitching pada praktikum bedah kodok sederhana. Semoga membantu kalian dalam melaksanakan praktikum, salam biologi.

Komentar

Postingan Populer