Yuji Itadori dan Mentalitas Gerigi
Jujutsu Kaisen, manga ‘komik terbitan Jepang’ garapan Gege Akutami, belakangan ini telah menjadi pionir dalam industri anime Jepang. Terhitung hingga Januari 2024, penjualan komik ini telah menyentuh angka 90 juta eksemplar. Hal ini lantaran narasi dan konsep yang dibawakan berhasil membawa angin segar ke dalam spektrum manga shōnen (ragam manga atau anime khusus bagi remaja yang sarat dengan tema aksi) yang cenderung punya tema sama, ‘copy paste’ istilahnya.
Tak cukup hanya pada penikmat anime dan manga saja, popularitas Jujutsu Kaisen juga telah menjamah masyarakat umum yang sebelumnya tak punya khazanah apapun mengenai anime. Di dunia maya, Jujutsu Kaisen kerap kali menjadi perbincangan netizen.
Seperti di penghujung tahun 2023. Kala itu, Gojo Satoru, karakter paling kondang di seri ini menemui akhir riwayatnya. Gege Akutami memutuskan bahwa karakter dengan surai putih itu tak lagi relevan di kisah ini. Kematian Gojo sontak menjadi perbincangan hangat warganet di seluruh penjuru dunia. Tak hanya penggemar anime, netizen-netizen FOMO ‘Fear of Missing Out’ juga turut berkomentar. Pasalnya tak hanya memiliki paras yang menyejukkan mata, Gojo bisa dibilang merupakan salah satu tokoh terkuat dalam seri itu.
“Siapa karakter utama Jujutsu Kaisen?”
“Gojo?,” begitulah jawaban para warganet.
Namun salah.
Lakon utama kisah ini bukan Gojo dengan sederet kesempurnaannya, melainkan hanya seorang bocah ingusan bau terik, Yuji Itadori namanya. Wajar saja jika kebanyakan orang mengatakan bahwa Gojo-lah bintangnya. Karena jika dibandingkan dengan Gojo yang mampu mengintervensi atom, Yuji Itadori tak lain dan tak bukan hanya remaja SMA terlewat biasa.
Di kisah ini, Yuji Itadori hanyalah seonggok roda gerigi.
Mengenal Yuji
Di semesta Jujutsu Kaisen, rasa benci dan sedih manusia termanifestasi menjadi suatu wujud buruk rupa, kutukan, begitu sebutannya.
Yuji yang pada waktu itu ingin menyelamatkan sahabatnya, menelan jimat yang memborgol Ryomen Sukuna, kutukan pembawa bencana di masa kelam 1000 tahun yang lalu. Sukuna merasuk dalam Yuji. Meski begitu remaja bersurai merah jambu itu tak hilang kendali, ia menjadi wadah yang membelenggu Sukuna dan dimulailah kisah Yuji sebagai seorang penyihir.
Pada awalnya, sama seperti tipikal protagonis shōnen, Yuji memulai kisahnya sebagai remaja dengan savior complex 'perilaku yang membuat seseorang cenderung untuk selalu membantu atau menolong orang lain secara berlebihan'. Tujuannya satu, menyelamatkan orang lain dari kutukan dan memberikan kematian yang ‘layak’ bagi mereka.
Hingga tibalah waktunya. Malam 31 Oktober 2018 di semesta Jujutsu Kaisen. Insiden Shibuya.
Malam Halloween 31 Oktober 2018: Insiden Shibuya
Insiden Shibuya merupakan serentetan peristiwa yang menjadi awal mula kekacauan di semesta Jujutsu Kaisen. Latar suasana yang awalnya masih bisa memberi kehangatan berubah 180 derajat. Di Shibuya tiap-tiap lakon Jujutsu Kaisen, kehilangan dan menemukan. Tak terkecuali untuk Yuji.
Malam itu, Yuji kehilangan mentor dan seorang sahabatnya. Riwayat mereka diakhiri oleh seorang kutukan, Mahito namanya. Remuk hati Yuji, dengan membabi buta ia berusaha mengantarkan Mahito pada ajalnya.
Seakan tak cukup sampai disitu. Hati Yuji hancur untuk kesekian kalinya pada malam itu, ketika kutukan yang bersemayam dalam jiwanya bersorak merayakan kebebasan. Sukuna lepas kendali. Dibantainya ribuan manusia, tanpa ampun ia ratakan Shibuya. Malam itu Yuji mengutuk dirinya sendiri.
Mahito yang membunuh rekannya dan Sukuna yang melakukan pembantaian membuat jiwa Yuji hancur lebur jadi abu. Apa yang terjadi di Shibuya berhasil menyadarkan Yuji. Pada akhirnya ia menyadari. Ia bukan penyelamat, bukan pahlawan, melainkan bagian dari mereka yang menciptakan Mahito dan Sukuna. Kini tujuannya hanya satu, menjadi roda gerigi dari mesin pembunuh kutukan. Meninggalkan idealisme lamanya.
Gerigi di Mesin
Semenjak rentetan bencana di Shibuya, mentalitas gerigi melekat kuat dalam diri Yuji.
Yuji sebagai karakter utama dengan mentalitas gerigi, jelas merupakan hal yang menarik dalam penulisan kisah ini.
Namun, jika kita tinjau dari sudut pandang psikologis, mentalitas roda gerigi sepertinya bukanlah hal yang patut dipelihara. Terlebih lagi untuk Yuji yang tengah berjuang di tengah carut marut dunianya. Mentalitas roda gerigi tak akan cukup untuk menghabisi Sukuna dan kroninya. Jika terus begini Yuji Itadori hanya akan berakhir jadi sampingan di kisahnya sendiri.
Jika diterapkan dalam dunia nyata mentalitas seperti ini punya plus minus tersendiri. Dari sudut pandang saya, kita sebagai bagian dari masyarakat tidak seharusnya merasa kecil dan tak berarti. Jika perasaan seperti ini terus-menerus dipelihara, hidup kita hanya akan berakhir stagnan. Pada akhirnya kita hanya akan merasa lebih terpuruk lagi.
Demikian pula sebaliknya, jangan sampai kita merasa seakan penuh dengan kuasa. Sikap congkak hanya akan mengantarkan kita pada kehancuran
Tidak merasa lemah, tidak juga merasa penuh dengan kuasa, begitulah seharusnya.
Penulis: Tiya Rosyidah Ahmad - 21 MIPA 1





Komentar
Posting Komentar